REVOLUSI MENTAL DALAM PENDIDIKAN YANG BERKARAKTER

Revolusi (dari bahasa latin revolutio, yang berarti “berputar arah”) adalah perubahan fundamental (mendasar) dalam struktur kekuatan atau organisasi yang terjadi dalam periode waktu yang relatif singkat. Kata kuncinya adalah Perubahan dalam Waktu Singkat.

            Revolusi mental merupakan suatu gerakan seluruh masyarakat baik pemerintah atau rakyat dengan cara yang cepat untuk mengangkat kembali nilai-nilai strategi yang diperlukan oleh Bangsa dan Negara sehingga dapat memenangkan persaingan di era globalisasi.

Revolusi mental mengubah cara pandang, pikiran, sikap dan perilaku yang berorientasi pada kemajuan dan kemoderenan, sehingga menjadi bangsa besar dan mampu berkompetisi dengan bangsa-bangsa lain di dunia.

Mendengar kata revolusi mental bukanlah hal yang baru bagi bangsa Indonesia, karena sebelumnya presiden pertama Indonesia Ir. Soekarno telah mencetuskan ini. Namun, belakangan ini kata revolusi mental tengah hangat menjadi topik pembicaraan. Karena kata revolusi mental ini menjadi jargon atau program pemerintahan presiden Jokowi yang tertuang dalam Nawa Cita poin ke delapan (8). Nawa Cita adalah istilah umum yang diserap dari bahasa Sanskerta, nawa (sembilan) dan cita (harapan, agenda, keinginan).

Moralitas menjadi melonggar. Sesuatu yang dulu dianggap tabu, sekarang menjadi biasa-biasa saja. Cara berpakaian, berinteraksi dengan lawan jenis, menikmati hiburan di tempat-tempat spesial dan menikmati narkoba menjadi tren dunia modern yang sulit ditanggulangi. Globalisasi menyediakan seluruh fasilitas yang dibutuhkan manusia, positif maupun negatif. Banyak manusia terlena dengan menuruti semua keinginannya, apalagi memiliki rezeki melimpah dan lingkungan kondusif.

Akhirnya, karakter bangsa berubah menjadi rapuh, mudah diterjang ombak, terjerumus dalam tren budaya yang kebarat baratan. Prinsip-prinsip moral, budaya bangsa, dan perjuangan hilang dari karakteristik mereka. Inilah yang menyebabakan dekadensi moral serta hilangnya kreativitas dan produktivitas bangsa. Sebab, ketika karakter suatu bangsa rapuh maka semangat berkreasi dan berinovasi dalam kompetensi yang kekat akan mengendur, dan mudah dikalahkan oleh semangat konsumerisme, hedonisme, dan lain-lain.

Pembangunan manusia melingkupi 3 dimensi, yaitu sehat, cerdas, berkepribadian. Sehat berarti dimulai dengan fisik kita yang senantiasa fit dan bugar.  Cerdas berarti mengarah pada otak kita yang selalu berpikir dan diasah sehingga memiliki kemampuan analisis yang tajam dan berkualitas.  Sedangkan berkepribadian adalah kaitannya dengan kehendak yang berbudi pekerti luhur.  Perlunya revolusi mental adalah karena penyakit seperti emosi/mental/jiwa akan berdampak pada individu berupa malasnya seseorang dan tidak mempunyai karakter.  Kemudian dampaknya akan menular kepada masyarakat yang ditandai dengan gangguan ketertiban, keamanan, kenyamanan, kecemburuan sosial, dan ketimpangan sosial.  Lebih jauh lagi, akan berdampak negatif pada bangsa dan negara.  Bangsa kita akan lemah dan menjadi tidak bermartabat.  Kemudian produktivitas dan daya saing kita menjadi rendah

Adapun rumusan Agenda Prioritas Pembangunan yang ditetapkan oleh Pemerintahan Jokowi dan Yusuf Kalla diberi nama Nawa Cita (9 agenda prioritas) :

  1. Menghadirkan kembali Negara untuk melindungi segenap dan memberikan rasa aman pada suluruh warga Negara.
  2. Membuat Pemerintah tidak absen dengan membangun tata kelola Pemerintah yang bersih, efektif, demokratis dan terpercaya.
  3. Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka Negara kesatuan
  4. Menolak Negara lemah dengan melakukan reformasi sistem dan penegakan hukum yang bebas korupsi, bermartabat dan terpercaya.
  5. Meningkatka kualitas hidup manusia.
  6. Mewujudkan melalui peningkatan kualitas pendidikan dan pelatihan dengan program Indonesia Pintar, Indonesia Kerja dan Indonesia Sejahtera, kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik.
  7. Meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar Internasional.
  8. Melakukan revolusi karakter bangsa melalui kebijakan penataan kembali kurikulum pendidikan nasional dengan mengedepankan aspek pendidikan kewarganegaraan, yang menempatkan secara proporsional aspek pendidikan, seperti pengajaran sejarah pembentukan bangsa, nilai-nilai patriotisme dan cinta Tanah Air, semangat bela negara dan budi pekerti di dalam kurikulum pendidikan Indonesia.
  9. Memperteguh ke-bhinekaan dan memperkuat restorasi sosial Indonesia melalui kebijakan memperkuat pendidikan ke-bhinekaan.

 

Tiga Nilai Revolusi Mental

  1. Integritas (jujur, dipercaya, berkarakter, bertanggung jawab)
  2. Kerja Keras (etos kerja, daya saing, optimis, inovatif dan produktif)
  3. Gotong royong (kerja sama, solidaritas, komunal, berorientasi pada kemaslahatan)

 

Strategi Internalisasi 3 Nilai Revolusi Mental

  1. Jalur birokrasi

Internalisasi 3 nilai revolusi mental pada Kementrian/Lembaga melalui:

  1. Pembentukan tugas gugus dan pic
  2. Tersusunnya program, kegiatan nyata berbasis nilai-nilai revolusi mental.
  3. Menjadi contoh tauladan (role model)

 

  1. Jalur swasta
  2. Memperkuat kemitraan antara pengusaha kecil dan pengusaha besar.
  3. Inseftif pengurangan pajak bagi pengusaha Indonesia yang mengembangkan produk lokal inovatif.
  4. Instruksi presiden kepada pengusaha media untuk berkolaborasi mempromosikan revolusi mental.
  5. Mengembangkan lembaga keuangan mikro di desa.
  6. Mendukung inisiatif usaha menengah membuka pasar/sentral yang menjual produk lokal yang inovatif, kreatif dan harga terjangkau.

 

  1. Jalur kelompok masyarakat
  2. Pembudayaan 3 nilai revolusi mental dalam kelompok masyarakat
  3. Membangun role model
  4. Aspirasi terhadap kelompok masyarakat
  5. Keteladanan oleh tokoh

 

  1. Jalur pendidikan
  2. Memperkuat kurikulum pendidikan kewarganegaraan pada semua jenjang, jenis dan jalur pendidikan untuk membangun integrasi, membentuk etos kerja keras dan semangat gotong royong.
  3. Menerapka ekstra kurikuler revolusi mental di sekolah.
  4. Meningkatkan sarana pendidikan yang merata.
  5. Meningkatkan kompotensi guru dalam mendukung revolusi mental

 

Dunia pendidikan sangat bertanggung jawab dalam menghasilkan lulusan-lulusan yang memiliki akademis bagus dan moral yang baik. Walaupun pada kenyataannya potret pendidikan di Negara kita dari segi akademis sangat bagus tetapi dari segi karakter ternyata masih bermasalah. Siapa yang tidak mengelus dada ketika melihat seorang pelajar yang tidak punya sopan santun, pendendam, mencontek, hobi narkoba, tawuran, membolos sekolah, aborsi, berjudi bahkan bagus nilainya untuk “mata pelajaran” pornografi. Contoh-contoh tersebut merupakan jenis kenakalan pelajar yang umum. Namun, tidak menutup mata pelajar yang patut dibanggakan juga ada, seperti mereka yang menjuarai olimpiade sains, baik ditingkat nasional maupun internasional. Bahkan, ada pelajar Indonesia yang berhasil menjadi juara umum dalam International Conference of Young Scientists (ICYS) atau Konferensi Internasional Ilmuan  Muda se-Dunia yang diikuti ratusaan pelajar SMA dari 19 negara di Bali pada 12-17 April 2010

Kegagalan pendidikan di Indonesia menghasilkan manusia yang berkarakter diperkuat oleh pendapat I Ketut Sumarta dalam tulisannya yang berjudul “Pendidikan yang Memekarkan Rasa”. Dalam tulisannya, Ketut Sumarta mengungkapkan bahwa pendidikan nasional kita cenderung hanya menonjolkan pembentukan kecerdasan berpikir dan menepikan penempatan kecerdasan rasa, kecerdasan budi, bahkan kecerdasan batin. Dari sini lahirlah manusia-manusia yang berotak pintar, manusia yang berprestasi secara kuantitatif akademik, tetapi tidak berkecerdasan budi.

Dalam dunia pendidikan, terdapat tiga ranah yang harus dikuasai oleh siswa, yaitu ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Ranah kognitif berorientasi pada ilmu pengetahuan dan teknologi, ranah afektif berkaitan dengan (sikap) attitude, moralitas, spirit, dan karakter, sedangkan ranah psikomotorik berkaitan dengan keterampilan bersifat prosedural dan cenderung mekanis.

Dalam realitas pembelajaran di sekolah, usaha untuk menyeimbangkan ketiga ranah tersebut memang selalu diupayakan, tetapi pada kenyataannya yang dominan adalah ranah kognitif, kemudian psikmotorik. Akibatnya adalah peserta didik kaya akan kemampuan bersifat hard skill, tetapi miskin soft skill karena ranah afektif terabaikan. Gejala ini tampak pada output pendidikan yang memiliki kemampuan intelektual tinggi, pintar, juara kelas, tetapi miskin kemampuan membangun relasi, kurang mampu berinteraksi dan bekerjasama, cenderung egois serta menjadi pribadi yang tertutup

  • Perubahan Dimulai Dari Pendidikan Itu Sendiri (Revolusi Pendidikan)

Pendidikan membutuhkan komitmen dan integritas para pemangku kepentingan di bidang pendidikan untuk secara sungguh-sungguh menerapkan nilai-nilai kehidupan di setiap pembelajaran. Pendidikan seharusnya tidak sekadar mengajarkan mana yang benar dan mana yang salah, tetapi juga menanamkan kebiasaan menjadi sebuah hoby tentang hal mana yang baik. Dengan alasan begitu, anak didik menjadi paham dan mengerti tentang mana yang baik dan salah serta mampu merasakan nilai yang baik, perilaku yang baik, dan biasa melakukanya dalam kehidupan mereka sehari-hari.

 

  • Revolusi Mental Dalam Dunia Pendidikan Harus Dijalankan secara Total

Dengan adanya Pendidikan formal melalui sekolah dapat menjadi lokus untuk memulai revolusi mental ini. pendidikan diarahkan pada pembentukan etos warga negara. Proses pedagogik membuat etos warga negara ini tumbuh atau dapat menjadi tindakan sehari-hari. Cara mendidik perlu diarahkan dari pengetahuan diskursif  ke pengetahuan praktis yang artinya, membentuk etos bukanlah pembicaraan teori-teori etika yang abstrak, tetapi bagaimana membuat teori-teori tersebut mempengaruhi tindakan sehari-hari. Pendidikan diarahkan menuju transformasi di tataran kebiasaan. Pendidikan mengajarkan keutamaan yang merupakan pengetahuan praktis. Revolusi mental membuat kejujuran dan keutamaan yang lain menjadi suatu disposisi batin ketika siswa berhadapan dengan situasi konkret.

 

  • Ijazah Inti dari Pendidikan Bukan Sekedar Gelar Semata Tanpa Ada Ilmu Yang didapatkan.

Masyarakat yang memandang ijazah sebagai tujuan pokok dari seluruh proses pendidikan maka kehilangan makna dari pendidikan itu sendiri. Menurut mereka Jika Bersekolah itu hanya usaha untuk mendapatkan ijazah saja. Agar mendapatkan ijazah dengan keterangan yang memuaskan, nilai-nilai ujian perlu digenjot. Ijazah menjadi golden ticket untuk meneruskan perjuangan hidup berikutnya. Ijazah digunakan untuk melamar pekerjaan dan mendapatkan jabatan sehingga kesejahteraan hidup pun terjamin.

Revolusi terhadap mental gila ijazah ini memang tidak mudah sebab perbaikan tidak hanya melibatkan sistem pendidikan melainkan juga sistem ekonomi dan politik. Sistem penilaian dalam pendidikan perlu dibuat agar tidak terlalu mementingkan kuantitas. Lapangan pekerjaan juga perlu diperluas agar orang tidak khawatir akan kesempatan yang ia dapatkan untuk mengembangkan diri di suatu lapangan pekerjaan tertentu.

 

  • Pelajaran Agama Harus Diperkuat dan Di Khususkan Disetiap Sekolah Walaupun Sekolah Umum

Walaupun Pada kurikulum 2013 banyak mengundang kritik dari para pemerhati pendidikan dalam negeri ini karena Kurikulum 2013 memiliki tujuan besar untuk mengubah moral peserta didik menjadi lebih baik melalui pendidikan agama yang dikhususkan dan diperbanyak Jam Belajarnya walaupun sekolah berstatus umum. Namun dengan kebijakan tersebut Kekeliruan mulai pecah dalam masyarakat kita ketika penerapan kurikulum 2013 dilakukan dengan memperbanyak ajaran agama.

Anggapan bahwa mereka mengatakan jika memperbanyak pelajaran agama dapat mengubah perilaku menjadi baik dan berakar dari asumsi pembedaan yang tajam antara budaya dalam bentuk pola pikir, perasaan dan tindakan yang lebih menjurus yang akan menimbulkan perbedaan satu dengan yang lainnya. Padahal dalam kenyataan hal tersebut tidak menjamin nilai-nilai yang dipelajari di sekolah menjadi cara berpikir dalam praktek hidup para pelajar. Dalam revolusi mental, perlu diupayakan perubahan asumsi dasar dalam memandang dan mengubah budaya tersebut.

 

KESIMPULAN

Pendidikan karakter ini merupakan aplikasi dari revolusi mental dalam dunia pendidikan, mengingat banyak sekali permasalahan pendidikan dan pendidikan sangat bertanggung jawab dalam melahirkan generasi yang berkarakter

 

SARAN

  • Pendidikan bukan hanya tanggung jawab sekolah tapi merupakan tanggung jawab bersama
  • Guru harus menjadi lokomotif perbaikan bangsa melalui revolusi mental
  • Guru harus mampu mengajarkan kompetensi sekaligus karakter. Karena kompetensi tanpa karakter akan rusak, dan karakter tanpa kompetensi akan pincang.

 

 

 

 

Penulis

Drs. Hari Purwanto, M.Si

(WI LPMP Kaltim)

Be Sociable, Share!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *